Apa Saja Tulisan yang Harus Ada pada Prasasti Peresmian Gedung?
Prasasti peresmian gedung merupakan salah satu elemen yang sering digunakan untuk menandai secara resmi sebuah bangunan yang telah selesai dibangun atau mulai digunakan. Dalam berbagai kegiatan pemerintahan dan institusi, peresmian gedung dapat ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh pejabat atau pihak yang meresmikan.
Karena prasasti biasanya dipasang dalam jangka panjang, informasi yang dicantumkan sebaiknya dibuat jelas, singkat, mudah dibaca, dan tidak menimbulkan kesalahan penafsiran.
Lalu, apa saja tulisan yang harus ada pada prasasti peresmian gedung?
Sebenarnya tidak ada satu format yang wajib digunakan untuk seluruh jenis gedung. Format dapat berbeda tergantung instansi, jenis bangunan, acara peresmian, dan ketentuan yang berlaku. Namun, ada beberapa informasi utama yang umum digunakan.
1. Kalimat Pembuka
Bagian pertama biasanya berupa kalimat pembuka yang memberikan kesan formal.
Contoh:
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Kalimat tersebut banyak ditemukan dalam format prasasti resmi. Salah satu pedoman pemerintah mengenai bentuk prasasti peresmian gedung menggunakan pembuka tersebut sebelum nama gedung.
Untuk kebutuhan tertentu, pembuka juga dapat disesuaikan dengan karakter lembaga atau bangunan.
Misalnya pada prasasti masjid dapat digunakan:
DENGAN RAHMAT ALLAH SWT
Namun, untuk gedung pemerintahan atau fasilitas umum, sebaiknya mengikuti format yang telah ditentukan oleh instansi terkait apabila memang ada ketentuannya.
2. Nama Gedung atau Bangunan
Ini merupakan salah satu bagian paling penting dalam tulisan prasasti peresmian gedung.
Nama gedung sebaiknya dibuat menonjol sehingga mudah dikenali ketika seseorang melihat prasasti dari jarak tertentu.
Contohnya:
GEDUNG SERBAGUNA DESA SUKAMAJU
atau:
GEDUNG KANTOR KECAMATAN SUKAMAJU
Pada beberapa pedoman resmi, nama tempat atau proyek yang diresmikan memang dibuat menggunakan ukuran huruf yang lebih besar dibandingkan tulisan lainnya.
Karena itu, ketika membuat desain, nama gedung sebaiknya tidak dibuat sama besar dengan seluruh teks.
3. Keterangan Peresmian
Setelah nama gedung, biasanya terdapat keterangan mengenai siapa yang meresmikan bangunan.
Format yang sederhana misalnya:
DIRESMIKAN OLEH
Kemudian dilanjutkan dengan nama pejabat atau pihak yang melakukan peresmian.
Contoh:
DIRESMIKAN OLEH
BUPATI SUKAMAJU
Keterangan ini juga ditemukan pada beberapa format prasasti resmi pemerintah.
4. Nama Pejabat atau Pihak yang Meresmikan
Setelah jabatan, nama orang yang melakukan peresmian perlu dicantumkan secara benar.
Misalnya:
BUPATI SUKAMAJU
BAPAK H. ANDI SETIAWAN, S.H., M.H.
Penulisan nama dan gelar harus diperiksa dengan teliti sebelum proses grafir dimulai.
Kesalahan satu huruf pada nama pejabat tentu akan sangat disayangkan karena prasasti merupakan elemen yang dibuat untuk jangka panjang.
Dalam beberapa format resmi, nama pejabat yang meresmikan juga mendapatkan penekanan ukuran huruf dibandingkan informasi lainnya.
5. Jabatan Pejabat yang Meresmikan
Selain nama, jabatan juga biasanya dicantumkan.
Contohnya:
GUBERNUR JAWA BARAT
atau:
BUPATI KABUPATEN SUKAMAJU
atau:
KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SUKAMAJU
Tujuannya adalah memberikan konteks mengenai kapasitas orang tersebut ketika melakukan peresmian.
Jika prasasti dibuat untuk perusahaan atau yayasan, formatnya dapat disesuaikan.
Misalnya:
DIREKTUR UTAMA PT. MAJU BERSAMA
6. Tempat dan Tanggal Peresmian
Bagian berikutnya adalah tempat dan tanggal peresmian.
Contoh:
Sukamaju, 12 September 2026
Tanggal tersebut membantu memberikan informasi historis mengenai kapan bangunan secara resmi diresmikan.
Dalam format prasasti pemerintah yang diterbitkan sebagai pedoman, bagian tempat dan tanggal juga menjadi bagian dari susunan prasasti.
Karena itu, sebelum desain final dibuat, pastikan tanggal yang digunakan sudah mendapatkan konfirmasi dari pihak penyelenggara.
7. Nama Instansi atau Lembaga
Untuk beberapa proyek, nama instansi atau lembaga juga perlu dicantumkan.
Misalnya:
PEMERINTAH KABUPATEN SUKAMAJU
atau:
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SUKAMAJU
atau:
YAYASAN PENDIDIKAN HARAPAN BANGSA
Bagian ini membantu memperjelas identitas pihak yang terkait dengan pembangunan atau pengelolaan gedung.
Namun, tidak semua prasasti harus memiliki susunan yang sama. Jika informasi sudah cukup jelas dari nama gedung dan logo, nama instansi tambahan dapat disesuaikan dengan kebutuhan desain.
8. Logo atau Lambang
Logo juga sering menjadi bagian dari desain prasasti, terutama untuk gedung pemerintahan, sekolah, perusahaan, yayasan, atau organisasi.
Contohnya:
- logo pemerintah daerah,
- logo kementerian,
- logo sekolah,
- logo perusahaan,
- logo yayasan,
- atau lambang Garuda untuk format tertentu.
Pada salah satu pedoman pemerintah terbaru, misalnya, desain prasasti peresmian mencantumkan logo Garuda dan huruf berwarna emas. Pedoman tersebut juga menetapkan contoh ukuran 90 × 60 cm dan material marmer atau granit hitam untuk konteks yang diatur dalam dokumen tersebut.
Namun, jangan langsung menganggap ukuran dan desain tersebut berlaku untuk semua prasasti. Ketentuan tersebut merupakan bagian dari pedoman instansi tertentu.
9. Keterangan Tambahan Jika Diperlukan
Tidak semua informasi harus dimasukkan ke dalam prasasti.
Jika dibutuhkan, dapat ditambahkan keterangan seperti:
PEMBANGUNAN GEDUNG PERPUSTAKAAN UMUM DAERAH
atau:
HASIL REHABILITASI GEDUNG
atau:
PEMBANGUNAN GEDUNG SERBAGUNA DESA SUKAMAJU
Informasi tambahan seperti ini sebaiknya hanya dimasukkan jika memang memberikan konteks penting.
Jangan sampai terlalu banyak teks membuat prasasti terlihat penuh.
Jadi, Apa Saja Bagian Prasasti Peresmian Gedung?
Secara sederhana, bagian prasasti peresmian gedung dapat disusun seperti berikut:
- Kalimat pembuka
- Nama gedung atau bangunan
- Keterangan “Diresmikan Oleh”
- Nama pejabat atau pihak yang meresmikan
- Jabatan
- Nama instansi atau lembaga jika diperlukan
- Tempat dan tanggal peresmian
- Logo atau lambang
- Keterangan tambahan jika diperlukan
Tidak berarti semua bagian tersebut harus selalu digunakan.
Justru desain yang baik adalah desain yang mampu memilih informasi paling penting sehingga prasasti tetap formal, proporsional, dan mudah dibaca.
Contoh Susunan Tulisan Prasasti Peresmian
Berikut contoh sederhana yang bisa dijadikan referensi:
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GEDUNG KANTOR KECAMATAN SUKAMAJU
DIRESMIKAN OLEH
BUPATI SUKAMAJU
BAPAK H. ANDI SETIAWAN, S.H., M.H.Sukamaju, 12 September 2026
Format seperti ini cukup ringkas tetapi sudah memberikan informasi utama.
Untuk proyek yang memiliki logo atau identitas instansi, logo dapat ditempatkan pada bagian atas dengan komposisi yang disesuaikan.
Contoh Isi Prasasti untuk Gedung Sekolah
Untuk sekolah, format dapat dibuat seperti berikut:
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GEDUNG BARU
SMA NEGERI 1 SUKAMAJUDIRESMIKAN OLEH
KEPALA DINAS PENDIDIKAN
KABUPATEN SUKAMAJUDrs. H. BUDI SANTOSO, M.Pd.
Sukamaju, 12 September 2026
Pada konteks pendidikan, prasasti juga digunakan sebagai bagian dari peresmian penggunaan gedung; salah satu petunjuk pemerintah mencantumkan prasasti dengan nama proyek, pihak yang meresmikan, nama pejabat, serta tempat dan tanggal.
Contoh Isi Prasasti untuk Gedung Masjid
Untuk masjid, bahasa dapat dibuat lebih sesuai dengan karakter tempat ibadah.
Contoh:
DENGAN RAHMAT ALLAH SWT
MASJID AL-IKHLAS
TELAH DIRESMIKAN
OLEH
BAPAK H. ANDI SETIAWANSukamaju, 12 September 2026
Jika diperlukan, nama yayasan, DKM, atau pihak pembangunan dapat ditambahkan.
Namun, usahakan tetap menjaga keseimbangan antara unsur dekoratif dan keterbacaan.
Contoh Isi Prasasti untuk Gedung Kantor
Untuk perusahaan, gaya yang lebih minimalis biasanya cocok.
PRASASTI PERESMIAN
GEDUNG KANTOR
PT. MAJU BERSAMADIRESMIKAN OLEH
DIREKTUR UTAMA
BAPAK RIZKY PRATAMAJakarta, 12 September 2026
Logo perusahaan dapat ditempatkan di bagian atas atau menjadi elemen pendukung dalam desain.
Apakah Semua Tulisan Harus Dicantumkan?
Tidak selalu.
Ini salah satu hal yang sering membuat desain prasasti menjadi terlalu penuh.
Prasasti pada dasarnya berbeda dengan dokumen administrasi. Tujuan utamanya adalah memberikan informasi penting secara ringkas dan permanen.
Jika sebuah prasasti berukuran terbatas tetapi memuat terlalu banyak informasi, ukuran huruf akhirnya harus diperkecil.
Akibatnya, prasasti mungkin terlihat kurang nyaman dibaca.
Karena itu, pilih informasi berdasarkan prioritas:
Nama gedung → pihak yang meresmikan → jabatan → tanggal → identitas pendukung.
Jika masih tersedia ruang, barulah pertimbangkan informasi tambahan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Tulisan Prasasti
Sebelum masuk proses grafir, ada beberapa hal yang sebaiknya diperiksa.
1. Salah Menulis Nama
Nama pejabat atau nama gedung harus diperiksa ulang.
2. Gelar Tidak Sesuai
Jika nama menggunakan gelar akademik atau gelar lainnya, pastikan penulisannya sesuai data resmi.
3. Tanggal Salah
Pastikan tanggal pada desain merupakan tanggal peresmian yang sudah dikonfirmasi.
4. Tulisan Terlalu Banyak
Jangan memasukkan semua informasi proyek ke dalam prasasti.
5. Ukuran Huruf Tidak Proporsional
Nama gedung seharusnya mendapatkan penekanan visual dibandingkan teks pendukung.
6. Logo Terlalu Besar
Logo merupakan identitas pendukung, bukan selalu menjadi elemen utama.
7. Tidak Membuat Layout Terlebih Dahulu
Sebaiknya desain dibuat dan diperiksa sebelum batu masuk proses grafir.
Kenapa Layout Prasasti Perlu Dibuat Sebelum Grafir?
Bayangkan teks sudah ditentukan, tetapi langsung digrafir ke batu tanpa melihat simulasi desain.
Bisa saja setelah selesai ternyata:
- nama gedung terlalu kecil,
- jarak antarbaris terlalu rapat,
- logo terlalu besar,
- tanggal terlalu dekat dengan bagian bawah,
- atau keseluruhan tulisan tidak berada di tengah.
Karena itu, layout desain sangat penting.
Desain dapat menunjukkan bagaimana semua informasi akan ditempatkan pada bidang granit atau marmer sebelum proses pengerjaan dilakukan.
Untuk prasasti berbahan granit hitam, misalnya, teks dapat dibuat dengan teknik grafir sandblast dan kemudian diberi finishing warna agar kontras dengan permukaan batu.
Pilih Material dan Teknik Grafir yang Sesuai
Setelah isi tulisan selesai, langkah berikutnya adalah menentukan material.
Granit dan marmer merupakan dua material yang umum digunakan untuk kebutuhan prasasti. Dalam beberapa pedoman pemerintah, material dan ukuran bahkan ditentukan secara spesifik sesuai konteks proyek.
Untuk kebutuhan custom, pemilihan material dapat mempertimbangkan:
- lokasi pemasangan,
- ukuran prasasti,
- konsep bangunan,
- jumlah tulisan,
- warna tulisan,
- dan anggaran.
Teknik sandblast juga dapat digunakan untuk menghasilkan grafir yang tegas dan detail pada permukaan batu.
Tips Agar Tulisan Prasasti Terlihat Elegan
Supaya hasil akhirnya tidak terlihat terlalu ramai, gunakan prinsip sederhana:
Ringkas.
Masukkan informasi yang benar-benar penting.
Hierarkis.
Nama gedung dan pihak yang meresmikan dapat dibuat lebih menonjol.
Proporsional.
Ukuran teks harus disesuaikan dengan bidang batu.
Konsisten.
Gunakan jenis huruf yang mudah dibaca dan tidak terlalu banyak variasi.
Teliti.
Periksa seluruh nama, jabatan, tanggal, dan logo sebelum proses grafir.
Prinsip ini juga sejalan dengan contoh pedoman pemerintah yang memberikan penekanan ukuran huruf berbeda untuk nama proyek/tempat dan nama pejabat dibandingkan tulisan lainnya.
Kesimpulan
Menentukan tulisan yang harus ada pada prasasti peresmian gedung tidak harus rumit. Yang paling penting adalah memastikan informasi utama seperti nama gedung, pihak yang meresmikan, jabatan, serta tanggal peresmian tercantum dengan benar dan ditata secara proporsional.
Setelah isi ditentukan, tahap berikutnya adalah membuat layout, memilih material, menentukan jenis huruf, serta menyesuaikan teknik grafir dengan konsep prasasti.
Jika Anda sedang mempersiapkan prasasti untuk gedung sekolah, kantor, masjid, yayasan, instansi pemerintah, atau fasilitas umum, desain sebaiknya dibuat berdasarkan karakter bangunan dan kebutuhan pemilik proyek.
Nisan Prasasti – Seni Grafir Sandblast siap membantu pembuatan prasasti dengan desain yang dapat disesuaikan mulai dari ukuran, material, susunan tulisan, hingga proses grafir.
📱 WhatsApp: 0813-1097-8237
📧 Email: nisanprasasti83@gmail.com
FAQ
Apa tulisan utama yang ada pada prasasti peresmian gedung?
Umumnya mencakup nama gedung, keterangan peresmian, nama pihak yang meresmikan, jabatan, serta tempat dan tanggal peresmian.
Apakah nama pejabat harus dicantumkan?
Untuk format prasasti peresmian resmi, nama dan jabatan pihak yang meresmikan umumnya dicantumkan. Namun, format akhirnya tetap mengikuti kebutuhan atau pedoman instansi yang bersangkutan.
Apakah logo harus ada pada prasasti?
Tidak selalu. Logo dapat digunakan jika memang diperlukan sebagai identitas instansi, perusahaan, sekolah, yayasan, atau lembaga.
Berapa ukuran prasasti peresmian gedung?
Tidak ada satu ukuran universal untuk semua prasasti. Beberapa pedoman pemerintah menetapkan ukuran tertentu untuk konteks proyeknya masing-masing, sementara kebutuhan custom dapat menggunakan ukuran berbeda.
Apakah tulisan prasasti bisa dibuat dari desain sendiri?
Bisa. Desain dapat dibuat berdasarkan nama gedung, logo, susunan teks, ukuran batu, dan konsep visual yang diinginkan sebelum proses grafir.
Material apa yang cocok untuk prasasti?
Granit dan marmer merupakan pilihan yang umum digunakan. Untuk proyek tertentu, material dapat mengikuti spesifikasi atau pedoman yang ditetapkan oleh instansi.
